Kamis, 23 Februari 2012

Diculik di Pasar Malam


Bella masih kelas tiga SD, ia mempunyai adik bernama Ella yang masih TK. Ada sebuah cerita yang diceritakan turun-temurun di Boyolali, tempat Bella dan Ella tinggal. Anak-anak kecil akan diculik, dibawa ke tempat antah berantah, dan dilemparkan ke sungai dari atas sebuah jembatan misterius di desa Rejosari. Jembatan itu akan roboh apabila tidak diberi makan dalam kurun waktu beberapa tahun sekali. Sebab selama ini ada penunggu di jembatan itu. Makanan yang diminta penunggu itu sungguh tidak masuk akal.

Jembatan itu terletak di tempat yang strategis. Jadi, apabila jembatan itu roboh, lalu lintas di sekitarnya akan putus total. Entahlah benar atau tidak cerita itu, tapi warga pernah menemukan jasad seorang anak yang tergeletak di tepi sungai. Mengerikan sekali. Dan tentu saja maraknya penculikan beberapa waktu belakangan ini menambah keresahan warga.

Orang tua Bella memiliki kesepakatan tidak tertulis, Bella dan Ella harus selalu ditemani orang yang lebih tua saat bepergian. Mereka juga harus membekali diri dengan ilmu bela diri. Maka setiap sore mereka berlatih taekwondo bersama-sama di rumah. Mereka selalu semangat berlatih seolah-olah ada penculik yang sedang menyeret mereka ke dalam mobil jip hitam.

Kabar penculikan memang makin ngetop saja. Di rumah, Bella dan Ella selalu diwanti-wanti agar waspada. Di sekolah guru-guru juga melakukan hal yang sama. Di warung Bu Amin, pembicaraan penculikan paling seru dan semarak.  Rasa-rasanya saat mendengar cerita itu, anak-anak telah bertempur langsung dengan sang penculik. Anak-anak makin diterjang puyuh ketakutan. Sekian lama Bella dan Ella berlatih, sekian lama mereka berjaga-jaga dengan cemas, jikalau ada penculik yang menyerang mereka.

Pada suatu sore, Bella dan Ella bersama dengan Mbak Tutik, pembantunya berjalan-jalan ke pasar malam. Tiba-tiba mereka terpisah saat Bella dan Ella asyik melihat komidi putar sedangkan Mbak Tutik sibuk melihat-lihat dagangan di pasar malam. Mereka menjadi sangat bingung dan saling mencari. Ternyata ada musibah mengintai. Di warung bakso pojok pasar malam itu ada empat laki-laki bertubuh kekar. Dua di antara mereka bertato naga dan macan.

Tampaknya mereka mengendarai mobil jip hitam yang diparkir di sebelah warung bakso. Kaca mobil itu semuanya hitam. Konon katanya, dari luar mobil orang tidak akan bisa melihat apa gerangan yang ada di dalam mobil.

Tiba-tiba Ella merasa lapar. Mereka memutuskan untuk makan malam di warung bakso.Tiga laki-laki sangar tadi masuk ke mobil sambil berunding untuk merencanakan sesuatu. Setelah selesai makan ada seorang laki-laki mendekati Bella dan Ella. Ia mengajak mereka mengobrol. Lalu bertanya apakah mereka suka boneka. Ella yang merupakan kolektor boneka sontak menjawab, “Suka banget, om. Di rumahku ada banyak boneka.” “Kebetulan om punya boneka Shaun The Sheep di mobil. Ella mau?” “Wah, kebetulan Ella belum punya. Mau dong, om.” Bella yang juga maniak boneka, meskipun tidak separah adiknya juga senang-senang saja mau dapat boneka tanpa harus merengek-rengek pada mama dan papanya.

Seorang laki-laki berotot mencelingukkan badan dari dalam mobil. Ada boneka di tangannya yang diayun-ayun ke arah Bella dan Ella. ”Aku mau boneka!” seru Ella. “Jangan norak-norak dong, El,” komentar Bella. “Di dalam sini masih banyak boneka kok, dik. Ayo masuk sini milih bonekanya.”  Bella dan Ella tanpa ragu masuk ke mobil. Memang benar, ada banyak boneka dan mainan di sana. Sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa mereka ternyata diculik. Mobil itu tiba-tiba meninggalkan tempat parkir tadi. “Lho om, kok mobilnya jalan?” “Sudah, kalian diam saja. Jangan banyak tanya!” “Om ini penculik ya? Jangan culik kami om!” Bella dan Ella mulai menangis sambil berusaha menyelamatkan diri lewat jendela, tetapi tidak bisa. Mereka hanya bisa menangis dan berdoa.

Mereka di bawa ke sebuah rumah kecil di pelosok Kecamatan Ngemplak yang letaknya jauh dari kota. Mereka disekap di sana. Mereka berusaha mencari jalan keluar. Tapi upaya mereka diketahui oleh penculik tadi. “Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Cepat tidur sana! Besok kalian harus ngamen!” bentak si penculik. “Hah??? Ngamen???” Bella dan Ella terbelalak.

“Jadi kita diculik buat disuruh ngamen, kak. Bukan buat dijadiin makanan jembatan seperti cerita penduduk sini. Syukurlah...” Ella menjadi sedikit lega. “Tapi kita tetap harus berusaha kabur, dik. Kasihan mama dan papa, mereka pasti bingung nyariin kita. Mbak Tutik pasti juga udah kena marah habis-habisan,” jawab Bella.

Pagi harinya, Bella dan Ella bertemu anak-anak lain yang juga hendak mengamen. Ternyata mereka tidak mempunyai orang tua. Jadi, mereka lebih memilih untuk dipekerjakan komplotan penculik karena mereka diberi makan dan tempat tinggal. Bella dan Ella melihat ada wartel di pinggir jalan tempat mereka mengamen. “Kakak punya ide, El! Gimana kalau kita menelepon mama dan papa dari wartel itu? Mumpung om penculiknya nggak ngawasin kita,” seru Bella. “Ayo, kak!”

Bella lalu menelepon orang tuanya dan mengabarkan bahwa ia dan Ella diculik di daerah Ngemplak. Mama dan papa Bella lapor ke Polisi. Beberapa saat kemudian mama dan papa Bella datang bersama Polisi. “Mama! Papa!” teriak Bella dan Ella. “Syukurlah kalian baik-baik saja,” mama dan papa Bella lega. Bella dan Ella lalu menunjukkan di mana markas penculik itu. “Pak Polisi, nanti sirinenya nggak usah dinyalain ya. Biar om penculiknya nggak tau kalau Pak Polisi dateng,” kata Ella dengan lugu. Akhirnya Polisi menggerebek markas penculik itu. Mereka ditangkap. Anak-anak yang mereka pekerjakan dibebaskan dan dibawa ke panti asuhan. Bella dan Ella sekarang bisa berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya. Tetapi, jembatan desa Rejosari masih menjadi misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Diculik di Pasar Malam


Bella masih kelas tiga SD, ia mempunyai adik bernama Ella yang masih TK. Ada sebuah cerita yang diceritakan turun-temurun di Boyolali, tempat Bella dan Ella tinggal. Anak-anak kecil akan diculik, dibawa ke tempat antah berantah, dan dilemparkan ke sungai dari atas sebuah jembatan misterius di desa Rejosari. Jembatan itu akan roboh apabila tidak diberi makan dalam kurun waktu beberapa tahun sekali. Sebab selama ini ada penunggu di jembatan itu. Makanan yang diminta penunggu itu sungguh tidak masuk akal.

Jembatan itu terletak di tempat yang strategis. Jadi, apabila jembatan itu roboh, lalu lintas di sekitarnya akan putus total. Entahlah benar atau tidak cerita itu, tapi warga pernah menemukan jasad seorang anak yang tergeletak di tepi sungai. Mengerikan sekali. Dan tentu saja maraknya penculikan beberapa waktu belakangan ini menambah keresahan warga.

Orang tua Bella memiliki kesepakatan tidak tertulis, Bella dan Ella harus selalu ditemani orang yang lebih tua saat bepergian. Mereka juga harus membekali diri dengan ilmu bela diri. Maka setiap sore mereka berlatih taekwondo bersama-sama di rumah. Mereka selalu semangat berlatih seolah-olah ada penculik yang sedang menyeret mereka ke dalam mobil jip hitam.

Kabar penculikan memang makin ngetop saja. Di rumah, Bella dan Ella selalu diwanti-wanti agar waspada. Di sekolah guru-guru juga melakukan hal yang sama. Di warung Bu Amin, pembicaraan penculikan paling seru dan semarak.  Rasa-rasanya saat mendengar cerita itu, anak-anak telah bertempur langsung dengan sang penculik. Anak-anak makin diterjang puyuh ketakutan. Sekian lama Bella dan Ella berlatih, sekian lama mereka berjaga-jaga dengan cemas, jikalau ada penculik yang menyerang mereka.

Pada suatu sore, Bella dan Ella bersama dengan Mbak Tutik, pembantunya berjalan-jalan ke pasar malam. Tiba-tiba mereka terpisah saat Bella dan Ella asyik melihat komidi putar sedangkan Mbak Tutik sibuk melihat-lihat dagangan di pasar malam. Mereka menjadi sangat bingung dan saling mencari. Ternyata ada musibah mengintai. Di warung bakso pojok pasar malam itu ada empat laki-laki bertubuh kekar. Dua di antara mereka bertato naga dan macan.

Tampaknya mereka mengendarai mobil jip hitam yang diparkir di sebelah warung bakso. Kaca mobil itu semuanya hitam. Konon katanya, dari luar mobil orang tidak akan bisa melihat apa gerangan yang ada di dalam mobil.

Tiba-tiba Ella merasa lapar. Mereka memutuskan untuk makan malam di warung bakso.Tiga laki-laki sangar tadi masuk ke mobil sambil berunding untuk merencanakan sesuatu. Setelah selesai makan ada seorang laki-laki mendekati Bella dan Ella. Ia mengajak mereka mengobrol. Lalu bertanya apakah mereka suka boneka. Ella yang merupakan kolektor boneka sontak menjawab, “Suka banget, om. Di rumahku ada banyak boneka.” “Kebetulan om punya boneka Shaun The Sheep di mobil. Ella mau?” “Wah, kebetulan Ella belum punya. Mau dong, om.” Bella yang juga maniak boneka, meskipun tidak separah adiknya juga senang-senang saja mau dapat boneka tanpa harus merengek-rengek pada mama dan papanya.

Seorang laki-laki berotot mencelingukkan badan dari dalam mobil. Ada boneka di tangannya yang diayun-ayun ke arah Bella dan Ella. ”Aku mau boneka!” seru Ella. “Jangan norak-norak dong, El,” komentar Bella. “Di dalam sini masih banyak boneka kok, dik. Ayo masuk sini milih bonekanya.”  Bella dan Ella tanpa ragu masuk ke mobil. Memang benar, ada banyak boneka dan mainan di sana. Sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa mereka ternyata diculik. Mobil itu tiba-tiba meninggalkan tempat parkir tadi. “Lho om, kok mobilnya jalan?” “Sudah, kalian diam saja. Jangan banyak tanya!” “Om ini penculik ya? Jangan culik kami om!” Bella dan Ella mulai menangis sambil berusaha menyelamatkan diri lewat jendela, tetapi tidak bisa. Mereka hanya bisa menangis dan berdoa.

Mereka di bawa ke sebuah rumah kecil di pelosok Kecamatan Ngemplak yang letaknya jauh dari kota. Mereka disekap di sana. Mereka berusaha mencari jalan keluar. Tapi upaya mereka diketahui oleh penculik tadi. “Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Cepat tidur sana! Besok kalian harus ngamen!” bentak si penculik. “Hah??? Ngamen???” Bella dan Ella terbelalak.

“Jadi kita diculik buat disuruh ngamen, kak. Bukan buat dijadiin makanan jembatan seperti cerita penduduk sini. Syukurlah...” Ella menjadi sedikit lega. “Tapi kita tetap harus berusaha kabur, dik. Kasihan mama dan papa, mereka pasti bingung nyariin kita. Mbak Tutik pasti juga udah kena marah habis-habisan,” jawab Bella.

Pagi harinya, Bella dan Ella bertemu anak-anak lain yang juga hendak mengamen. Ternyata mereka tidak mempunyai orang tua. Jadi, mereka lebih memilih untuk dipekerjakan komplotan penculik karena mereka diberi makan dan tempat tinggal. Bella dan Ella melihat ada wartel di pinggir jalan tempat mereka mengamen. “Kakak punya ide, El! Gimana kalau kita menelepon mama dan papa dari wartel itu? Mumpung om penculiknya nggak ngawasin kita,” seru Bella. “Ayo, kak!”

Bella lalu menelepon orang tuanya dan mengabarkan bahwa ia dan Ella diculik di daerah Ngemplak. Mama dan papa Bella lapor ke Polisi. Beberapa saat kemudian mama dan papa Bella datang bersama Polisi. “Mama! Papa!” teriak Bella dan Ella. “Syukurlah kalian baik-baik saja,” mama dan papa Bella lega. Bella dan Ella lalu menunjukkan di mana markas penculik itu. “Pak Polisi, nanti sirinenya nggak usah dinyalain ya. Biar om penculiknya nggak tau kalau Pak Polisi dateng,” kata Ella dengan lugu. Akhirnya Polisi menggerebek markas penculik itu. Mereka ditangkap. Anak-anak yang mereka pekerjakan dibebaskan dan dibawa ke panti asuhan. Bella dan Ella sekarang bisa berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya. Tetapi, jembatan desa Rejosari masih menjadi misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Diculik di Pasar Malam


Bella masih kelas tiga SD, ia mempunyai adik bernama Ella yang masih TK. Ada sebuah cerita yang diceritakan turun-temurun di Boyolali, tempat Bella dan Ella tinggal. Anak-anak kecil akan diculik, dibawa ke tempat antah berantah, dan dilemparkan ke sungai dari atas sebuah jembatan misterius di desa Rejosari. Jembatan itu akan roboh apabila tidak diberi makan dalam kurun waktu beberapa tahun sekali. Sebab selama ini ada penunggu di jembatan itu. Makanan yang diminta penunggu itu sungguh tidak masuk akal.

Jembatan itu terletak di tempat yang strategis. Jadi, apabila jembatan itu roboh, lalu lintas di sekitarnya akan putus total. Entahlah benar atau tidak cerita itu, tapi warga pernah menemukan jasad seorang anak yang tergeletak di tepi sungai. Mengerikan sekali. Dan tentu saja maraknya penculikan beberapa waktu belakangan ini menambah keresahan warga.

Orang tua Bella memiliki kesepakatan tidak tertulis, Bella dan Ella harus selalu ditemani orang yang lebih tua saat bepergian. Mereka juga harus membekali diri dengan ilmu bela diri. Maka setiap sore mereka berlatih taekwondo bersama-sama di rumah. Mereka selalu semangat berlatih seolah-olah ada penculik yang sedang menyeret mereka ke dalam mobil jip hitam.

Kabar penculikan memang makin ngetop saja. Di rumah, Bella dan Ella selalu diwanti-wanti agar waspada. Di sekolah guru-guru juga melakukan hal yang sama. Di warung Bu Amin, pembicaraan penculikan paling seru dan semarak.  Rasa-rasanya saat mendengar cerita itu, anak-anak telah bertempur langsung dengan sang penculik. Anak-anak makin diterjang puyuh ketakutan. Sekian lama Bella dan Ella berlatih, sekian lama mereka berjaga-jaga dengan cemas, jikalau ada penculik yang menyerang mereka.

Pada suatu sore, Bella dan Ella bersama dengan Mbak Tutik, pembantunya berjalan-jalan ke pasar malam. Tiba-tiba mereka terpisah saat Bella dan Ella asyik melihat komidi putar sedangkan Mbak Tutik sibuk melihat-lihat dagangan di pasar malam. Mereka menjadi sangat bingung dan saling mencari. Ternyata ada musibah mengintai. Di warung bakso pojok pasar malam itu ada empat laki-laki bertubuh kekar. Dua di antara mereka bertato naga dan macan.

Tampaknya mereka mengendarai mobil jip hitam yang diparkir di sebelah warung bakso. Kaca mobil itu semuanya hitam. Konon katanya, dari luar mobil orang tidak akan bisa melihat apa gerangan yang ada di dalam mobil.

Tiba-tiba Ella merasa lapar. Mereka memutuskan untuk makan malam di warung bakso.Tiga laki-laki sangar tadi masuk ke mobil sambil berunding untuk merencanakan sesuatu. Setelah selesai makan ada seorang laki-laki mendekati Bella dan Ella. Ia mengajak mereka mengobrol. Lalu bertanya apakah mereka suka boneka. Ella yang merupakan kolektor boneka sontak menjawab, “Suka banget, om. Di rumahku ada banyak boneka.” “Kebetulan om punya boneka Shaun The Sheep di mobil. Ella mau?” “Wah, kebetulan Ella belum punya. Mau dong, om.” Bella yang juga maniak boneka, meskipun tidak separah adiknya juga senang-senang saja mau dapat boneka tanpa harus merengek-rengek pada mama dan papanya.

Seorang laki-laki berotot mencelingukkan badan dari dalam mobil. Ada boneka di tangannya yang diayun-ayun ke arah Bella dan Ella. ”Aku mau boneka!” seru Ella. “Jangan norak-norak dong, El,” komentar Bella. “Di dalam sini masih banyak boneka kok, dik. Ayo masuk sini milih bonekanya.”  Bella dan Ella tanpa ragu masuk ke mobil. Memang benar, ada banyak boneka dan mainan di sana. Sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa mereka ternyata diculik. Mobil itu tiba-tiba meninggalkan tempat parkir tadi. “Lho om, kok mobilnya jalan?” “Sudah, kalian diam saja. Jangan banyak tanya!” “Om ini penculik ya? Jangan culik kami om!” Bella dan Ella mulai menangis sambil berusaha menyelamatkan diri lewat jendela, tetapi tidak bisa. Mereka hanya bisa menangis dan berdoa.

Mereka di bawa ke sebuah rumah kecil di pelosok Kecamatan Ngemplak yang letaknya jauh dari kota. Mereka disekap di sana. Mereka berusaha mencari jalan keluar. Tapi upaya mereka diketahui oleh penculik tadi. “Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Cepat tidur sana! Besok kalian harus ngamen!” bentak si penculik. “Hah??? Ngamen???” Bella dan Ella terbelalak.

“Jadi kita diculik buat disuruh ngamen, kak. Bukan buat dijadiin makanan jembatan seperti cerita penduduk sini. Syukurlah...” Ella menjadi sedikit lega. “Tapi kita tetap harus berusaha kabur, dik. Kasihan mama dan papa, mereka pasti bingung nyariin kita. Mbak Tutik pasti juga udah kena marah habis-habisan,” jawab Bella.

Pagi harinya, Bella dan Ella bertemu anak-anak lain yang juga hendak mengamen. Ternyata mereka tidak mempunyai orang tua. Jadi, mereka lebih memilih untuk dipekerjakan komplotan penculik karena mereka diberi makan dan tempat tinggal. Bella dan Ella melihat ada wartel di pinggir jalan tempat mereka mengamen. “Kakak punya ide, El! Gimana kalau kita menelepon mama dan papa dari wartel itu? Mumpung om penculiknya nggak ngawasin kita,” seru Bella. “Ayo, kak!”

Bella lalu menelepon orang tuanya dan mengabarkan bahwa ia dan Ella diculik di daerah Ngemplak. Mama dan papa Bella lapor ke Polisi. Beberapa saat kemudian mama dan papa Bella datang bersama Polisi. “Mama! Papa!” teriak Bella dan Ella. “Syukurlah kalian baik-baik saja,” mama dan papa Bella lega. Bella dan Ella lalu menunjukkan di mana markas penculik itu. “Pak Polisi, nanti sirinenya nggak usah dinyalain ya. Biar om penculiknya nggak tau kalau Pak Polisi dateng,” kata Ella dengan lugu. Akhirnya Polisi menggerebek markas penculik itu. Mereka ditangkap. Anak-anak yang mereka pekerjakan dibebaskan dan dibawa ke panti asuhan. Bella dan Ella sekarang bisa berkumpul lagi dengan kedua orang tuanya. Tetapi, jembatan desa Rejosari masih menjadi misteri yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Senin, 25 Juli 2011

Anak Kecil Pengamen


Di perempatan jalan
Di antara raungan kendaraan kota
Kulihat seorang anak kecil pengamen
Kira-kira sewindu usianya
Ia menyanyi dengan suara khas
Sebuah gitar kecil dimainkannya
Gitar itu sahabatnya
Yang menemani ke mana saja anak itu pergi
Siang ini terik sang surya begitu mencakar kulit
Bocah pengamen tetap bersenandung riang
Tak peduli peluh mengucur deras
Bocah itu pantang menyerah
Tak kenal mengeluh
Demi sesuap nasi dan seteguk air
Demi cita-cita mulia yang ingin digapainya